Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, August 31, 2017

Rencanakan Segalanya Kecuali Mati

Rencanakan Segalanya Kecuali Mati
RENCANAKAN SEGALANYA KECUALI MATI
-T.I. Thamrin-


Bergandeng tangan kami berjalan, jari jemari saling mengunci. Di ujung jalan itu, ujung jalan yang terjun ke laut, kami berhenti. Kami memandangnya, ujung jalan itu, seperti memandang nasib kami sendiri yang putus.

“Mengapa kau bawa aku kemari, Azhar?”

Setatapan kami berpandangan dan ketika mata kami bersabung, tangannya mengerat di genggamanku. Wajahnya pucat dan kaku, tapi kuketahui benar ia sedang bertarung dengan hatinya sendiri.

“Tak ada maksudku membawamu kemari. Kita bertemu di tempat yang kita janjika, tanpa bertukar kata sepatah pun, kemudian kita berjalan asal berjalan. Tak sengaja kaki kita melangkah sendiri kemari. Tapi, bukankah di sini kita memulainya, Agia?”

Azizah tersenyum pada dirinya sendiri. Dengan memelas dipandangnya hampir segala sesuatu yang menyimpan kenangan-kenangan percintaan kami. Laut dengan ombak dan riaknya, nyiur pantaidan cemara, batu, pasir, kerang-kerang…

Ada nada sinis dalam kata-katayang kemudian ia ucapkan.

“Waktu! Alangkah penuh rahasia. Tak terduka, penuh pendadakan! Siapa menyangka aku hari ini akan menangis, padahal kemarin masih tersenyum? Kemarin aku ingin hidup seratus tahun – Sekarang? Benar-benar aku ingin mati pada detik ini juga.

Aku terbalik dan dengan itu matanya kutatap. Kemudian dengan membujuk aku berkata.

“Jangan berkata tentang kematian, Agia. Hidup ini tak sengaja, tak dapat direncanakan. Mengapa pula kita harus merencanakan kematian kita? Rencanakan segala-galanya, Agia, kecuali mati.”

Azizah tersenyum sedikit, hampir-hampir tak menggerakkan bibirnya.

“Rencanakan segala-galanya kecuali mati. Bagus benar kalimat itu. Namun bagiku, lebih baik bunuh diri dari pada dibunuh orang lain.”

Ada ombak besar menyambar ujung pantolanku. Namun bukan karena itu aku terperanjat – kalimat Azizah yang terakhir itulah.

“Kalimatmu itu juga indah, Agia, indah sebagai kalimat. Tapi pengertiannya membangkitkan bulu romaku. Orang mudah menuduhmu egoistis!

Azizah menatapku heran. Katanya, “aku anak ayahku, Azhar, kenapa tidak?”

Aku cukup mengerti maksudnya, tapi kupandang juga ia dengan heran.

“Apakah ayahku tidak egoistis, Azhar? Apa yang ia pertahankan selain egoisme? Ia terlalu bangga dengan dirinya. Apa yang ia banggakan?”

“Ia pantas bangga. Ia Teuku.”

“Apa kau bukan?”

“Tapi aku lahir dari perutseorang perempuan Melayu, seperti katanya. Dan terlebih-lebih ia pahlawan pada zamannya.”

“Pahlawan?”

“Apakah bukan, Agia? Usia lima belas tahun ia sudah bertempur di sisi ayahnya, kakek kita. Dua puluh tiga Belanda dibunuhnya. Kalau tidak Jepang datang…”

“pahlawan pada zamannya. Tepat katamu. Tapi mengapa ia masih ingin menjagoi zaman sekarang? Ini bukan zamannya lagi!”

“Ia sama sekali tak bermaksud demikian. Pada saat sekarang ia hanya ingin jadi jagoan dalam kenang-kenangan masa lalunya.”

Ia meledak tertawa. Setengah berteriak ia berkata, “Tindak menghalang-halangi perkawinan kita, apakah bukan kehendak menjagoi masa kini, Azhar?”

“Ia berhak sepenuhnya, kau anaknya, aku kemenakannya.”

Azizah membalik, menatapku seperti hendak menembusi apa yang ada di balik benakku.

“Azhar!’, serunya tertahan-tahan, “mengapa kau begini? Kau telah mengkhianati dirimu sendiri! Kau…”

“Aku mencoba memahami dirinya, Agia. Aku mencoba menjadi dirinya dengan segala keangkuhan dan segala kebanggan masa lalunya.”

“Kemudian mencoba memahami sikapnya?” timpanya mengejek.

“Tepat, Agia!”

Tertawa ia, Agia itu, anak pamanku, mengiris penuh sinisme.

“Tapi pamanku tidak pernah mencoba memahami kita seperti kau berusaha memahami dirinya! Itu tidak adil!!”

Suaranya seperti hendak menangis, tangis amarah. “Azhar,” katanya gemes, genggamannya mengerat, “kau sudah mengkhianati dirimu. Kau khianati cinta kita! Oh,…”

Pegangannya tiba-tiba mengendur, dan dalam sekali sentak pegangan itu lepas. Ia terjun ketepian berlari menyusur pantai ke arah matahari yang sedang tenggelam. Bayangannya yang panjang sekali-sekali dipermainkan ombak yang pecah di pantai.

“Agia!,” teriakku, melompat mengejarnya.

Ia berlari berliku-liku antara gundukan pohon-pohon panda. Sebentar hilang antara lembah-lembah bukit pasir, kemudian muncul pula di puncaknya.

Sekarang ia mendaki sebuah bukit karang. Tiba-tiba sebelah kakinya tergelincir, keseimbangannya hilang, dan ia jatuh terguling ke bawah. Aku mempercepat lariku, tapi ketika aku sampai ia sudah tegak pula di atas kakinya. Cepat kutangkap kedua lengannya ketika ia hendak melanjutkan perlariannya. Ia meronta bagai gi;a.

“Lepaskan!”

“Agia, dengarkan…”

“Pengkhianat! Kau khianati…Oh…”

“Agia! Dengarkan dulu… Belum habis…”

Sambil menggeleng-geleng kepalanya, ia menggila dalam rontaan. Dicobanya menggigit lenganku. Aku membalik, mengepitnya dari belakang.

“Lepaskan aku najis! Kau…pengecut! Pengecut melebihi kutu busuk!”

Mendadak kukendurkan peganganku. Aku pengecut? Aku?

“Aku, Agia? Aku pengecut?

“Ya, kau! Laki-laki pengecut! Banci!!”

Segera aku lepaslan Azizah. Tidak ada makian yang lebih menyinggung perasaanku selain dari pada kata pengecut. Kakekku gugur dalam perang Sabil dan keberaniannya dari dongengan. Ayahku kawin dengan ibuku, si perempuan Melayu, di bawah ancaman dan kutukanseluruh keluarga. Ia membutuhkan keberanian luar biasa ketika adat masih ketat dan belati masih banyak berbicara dari pada mulut.

Dan aku? Aku anak tunggal orang tuaku, dilahir-besarkan di tengah silang sengketa. Aku menjadi tumpuan ejekan. Kalau aku tidak berani dan tabah, aku akan tumbuh menjadi anak kerdil yang tak punya keberanian mencintai Azizah. Agia, kau melukai dan menghindari harga diriku. Justru kau!

Tanpa kusadari aku sudah bergerak meninggalkan Azizah yang termangu sendiri. Kudaki bukit karang yang satu tebingnya curam ketika ia terjun kelaut. Tersinggung, sedih – itulah keadaanku sekarang.

Di atas bukit karang itu kucoba menentramkan hatiku dengan memandang ke laut lepas. Kudengar angin bersiut-siut, berpilin-pilin, kemudian menjauh dan lenyap entah kemana – untuk mekudian datang kembali entah dari mana. Riak gemercik, gelombang bergoyang di antara tenag, tiba-tiba bagai lepas dari kendali, membumbung dan mengempas di atas batu karang – hancur berkeping-keping.

Sekarang, datang lagi, angin itu, bagai meratap. Benarkah itu suara angin, atau suara jinkah? Tidak, itu suara manusia, suara perempuan, suara Azizahkah?

Kubalikkan badanku dan segera kulihat tubuh Azizah yang terguncang menahan tangis. Bagai gundukan pasir diterbangkan angin, rasa tersinggungku pun lenyap seketika. Segera ia kudatangi dan kusapu pundaknya. Ibanya datang dan tubuhnya tambah terguncang, meliuk-liuk bagai nyiur ditayang angin.

“Agia,” aku mencoba membujuk.

“Cut Azizah itulah namamu. Ada kau dengar? Kau anak ayahmu, mengapa begitu cengeng?”

Aku mengangkatnya. Kubiarkan ia tegak di atas kakinya, walaupun ia mencoba menggandul

“Jangan kau biarkan kebanggaan dirimu hancur, Cut Azizah. Kembalilah kepada dirimu, kepada keberanian dan harga dirimu.”

Aku memandangnya langsung ke dalam matanya. Tersenyum malu-malu, ia menyeka air matanya. 

“Untuk punya keberanian dan harga diri, seseorang harus punya tempattegak, suatu kepercayaan, suatu keyakinan. Kaulah, Azhar, keyakinan dan kepercayaanku selama ini. Karena kaulah aku selama ini berani. Tapi sekarang kau hendak meninggalkan aku – kukira. Tinggalah aku sendiri…”

Aku tergelak. Ujarku, “Kau sendirian? Kau? Mana mungkin aku meninggalkanmu. Bagiku mundur sudah pasti hancur, tapi kalau maju belum tentu. Kecuali kalau kau…”

Perkataanku putus ketika ia memandangku langsung ke dalam mataku. Senyum berkaca di matanya. Dipegangnya tanganku, diciumnya.

“Jangan membantah, Azhar. Kau tadi tersinggung.”

Ada jarak waktu ketika aku menjawab, “untuk berkata benar, ya!”

Aku ragu, apakah perlu penjelasan? Lalu, makilah aku, Agia, sekotor-kotornya makian. Pengkhianat? Sebutlah ia dengan segala padanannya, aku masih bisa tersenyum. Untuk menjadi penkhianat masih dibutuhkan keberanian. Tapi pengecut? Lebih nista dari barang apapun yang tak berguna.

“Aku dilahirkan karena keberanian orang tuaku. Tanpa keberanian mereka, aku tidak akan pernah lahir seperti yang kau lihat sekarang, seperti yang kau cintai sekarang.

Azizah menunduk, kuangkat dagunya. Kataku, “Pandanglah aku, Agia, bertampang pengecutkah aku? Seorang pengecut tidak akan berani memandangmu, jangankan mencintaimu. Siapa kau? Kau puturi uleebalang* yang kelewat angkuh, puteri pahlawan yang terlewat bangga akan dirinya. Risiko mencintaimu, Agia, risiko darah. Mengerikan engkau?’

Angin-angin menyerang diriku, namun bukan karena itu tubuhku menggigil – ada yang datang dari diriku sendiri.

“Maafkan aku, Azhar” kata Agia. “Aku panik tadi, hingga salah pengertian.”

Suara itu datang seperti embun menitis pada daun yang kegerahan

“Tiada maaf di antara dua orang saling mencintai. Yang harus ada pengertian, sedalam-dalamnya pengertian.”

Aku merasa lega seperti beban berat telah dipunggah dari pundakku.

“Pengertian-pengertian itu kah yang hendak kau cari dari ayahku?”

“Sedapat-dapatnya demikian. Kalau kita dapat memenangkan sesuatu dengan pengertian, mengapa pula harus dengan belati?”

Kutatap Azizah untuk mendapatkan kekuatan dan menduga kekuatannya sendiri untuk menerima pernyataanku ini. Lalu aku menandaskan, “Untuk itu, barangkali sekali-kali perlu benturan!”

Tanpa kami sadari hari sudah menjadi malam. Laut yang hitam dibintangi pelita perahu-perahu nelayan, sebentar seperti ditelan kelam, kemudian muncul lagi dari ketiadaan. Langit tanpa bulan – kalaupun ada cahaya, itu kerlipnya bintang-bintang.

“Azhar,” tiba-tiba suara Azizah cemas, “hari telah malam, Orang tuaku pasti cemas dan curiga. Apa kata mereka?” Aku sendiri cemas, cemas, cemas itu kucoba kukendalikan.

“Tenang, Agia. Coba kita cari pemecahan. Kau akan kuantar ke orangtuamu dan aku akan mempertanggungjawabkannya.”

“Entahlah. Itulah yang sedang aku pikirkan.”

Diam. Lama kami diam dalam pikiran masing-masing. Sekadar untuk hanya tinggal diam, kuseret Azizah mendaki bukit karang. Rambut Azizah yang panjang sampai ke pinggang ditayang ke sana kemari. Ia merapatkan dirinya mencari panas tubuhku. Kulilitkan lenganku ke pinggangnya dan dalam keadaan demikian kami menatap laut dengan khayal jauh melampaui horison.

Tiba-tiba terdengar langkah mendekat dan cepat kami membalik sambil merenggangkan jarak. Seorang yang perkasa telah berdiri di hadapan kami. Aku terbelalak. Azizah menutup mukannya.

“Ayah! Oh…” Azizah tergagap-gagap.

“Kalian!”, orang tua itu menunjuk langsung ke mata kami. Telunjuknya menggelegar karena marah.

“Kalian anak haram jadah! Kalian percikkan kotoran babi ke muka kami. Anak haram jadah!”

Ia memandangku langsung sekarang, tumpuan segala segala kesalahan. Matanya yang bulat sperti hendak menelanku mentah-mentah.

“Kau! Pembawa najis, kau zinai anakku!”

“Paman, hati-hatilah dengan kata-kata. Kata-katamu yang telah menodai anakmu, bukan perbuatanku!”

“Dajal! Kau, anak perempuan Melayu!”

“Ayah…!” seru Azizah.

“daj-jal!”

Paman dengan sigap menyerangku. Pendadakannya mengagumkan. Azizah memekik. Entah dimana ia menyelipkan rencongnya, tapi tiba-tiba rencong itu sudah di tangannya saja. Aku bukan tandingan paman, rencong itu sudah masuk ke perutku. Aku rubuh.

“Ayah! Kau bunuh kemenakanmu sendiri… Kejam, kejam…,” lolong Azizah.

Paman mencabut rencong daroi perutku, darah menetes dari ujungnya. Azizah hendak menubrukku. Tapi ayahnya menghardik

“Berdiri di tempatku, Agia! Kaupun akan mendapatkan bagianmu.” 

Paman mendekat dan Azizah benar-benar berdiri di tempatnya. Lengan orang tua yang berbulu tebal itu menggigil, alisnya yang tebal bersambung di pangkal hidungnya. Sorot matanya dan bentuk bibirnya menunjukkan kekerasan hatinya. Laku-laki pada zamannya, pamanku itu. Paman semakin mendekat, rencong telanjang merah di tangannya.

“Kuabayari kau memperalat diri dengan ilmu barat, Agia, karena kutahu zaman telah berubah. Dulu kami berperang dengan kelawang, tapi orang kini menghancurkan sebuah negeri dengan menekan tombol. Tapui bagaimanapun majunya seseorang dengan ilmunya, satu hal yang orang tidak boleh lupa bahwa seseorang itu lahir karena orangtuanya. Tapi kau! Kau kelewat pintar, hingga aku, ayahmu, kau lawan. Tapi sebagai orang Aceh, aku tahu benar bagaimana memperlakukan pengkhianat, walau ia anaknya sendiri.

Azizah mengangkat kepalanya dan dengan berani ditantangnya mata ayahnya. Cetusnya, “Aku sependapat denganmu ayah dalam segala-galanya, kecuali dalam satu hal. Ayah terlalu angkuh, terlalu rakus dengan harga diri, hingga dengan anak dan kemenakan sendiri enggan berbagi…”

Belum habis kata-kata itu, paman sudah melompati Azizah. Tapi Azizah benar-benar anak ayahnya. Ia cepat mengelak dengan lompatan dua-tiga tindak ke samping. Sekarang ia berdiri tiga-empat meter dari tempat ayahnya tegak.

“Ayah tidak akan dapatkan aku,” katanya, “Aku bangga dengan dirimu ayah, tapi juga dengan diriku sendiri.”

Paman mengunyah giginya. Geram memancar dari wajahnya, terutama matanya itu. “menyerahlah, Agia. Matilah di tangan ayahmu sendiri. Aku akan menusuk langsung di janntungmu, mati yang seketika tidak akan membekaskan sakit.”

Azizah mengerling laut di sampingnya, matanya berkaca-kaca oleh senyum kemenangan. “Nyawaku adalah harga diriku. Dia tidak akan kuserahkan pada orang lain, walau ia ayahku sendiri.”

Paman pucat. Ia menyadari benarapa yang akan dilakukan oleh anaknya. Dia menggeletar seperti dahan kering dipukul angin. Dia memandangku mengharapkan pertolongan, tapi siapabisa mencegah tekad yang sudah membulat? Dan aku sendiri lumpuh.

Agia, tunggu!”, teriak bagai hendak terbang. Tapi secepat itu pula Azizah melemparkan dirinya, menggelinding sebentar melalui tebing bukit, kemudian segera dihela ombak dan digulungnya sekali.

Mata paman terbelalak dengan mulut yang merongga. Ketika tubuh Azizah muncul sebentar dipermukaan dipermainkan ombak, paman berteriak.

“tolong dia!”, dan paman pun terjun. Kulihat ia mencoba berenang. Tapi ombak terlalu gila untuk orang setua dia – betapa pun perkasanya ia pada masa mudanya. Ia dihempaskan kesana-kemari, dilambung dan ditenggelamkan, namun masih tetap berusaha berenang. Beberapa kali ia menelan air laut, lalu tenggelam, lama tidak timbul. Sekali ia muncul di puncak ombak, dogoyang sebentar, kemudian lenyap dan tidak muncul lagi.

Mataku berkunang-kunang oleh darah yang terlalu banyak keluar, dan oleh dua adegan yang baru berlalu di depan mataku. Ingin aku menangis, meolong, bahkan terjun bersama mereka di laut. Tapi aku sudah terlalu  lemah.

“Rencanakan segala-galanya kecuali mati,” aku mencoba mengulang kata-kataku sendiri. Apakah mereka merencanakannya – kematian itu? Apakah tangan nasib turut campur? Ah, terlalu banyak jawaban yang ingin kudapatkan untuk begitu banyak bertanyaan.

Selubung teramat gelap jatuh menutupi bola mataku. Persetan, apakah ini namanya mati?

1991

Catatan: 

Meutia Sudah Berhenti Bertanya

Meutia Sudah Berhenti Bertanya
Meutia Sudah Berhenti Bertanya

T.I. Thamrin


MEUTIA berusia lima tahun. Bijaknya bukan main. Dia cepat akrab dengan setiap orang yang baru dikenalnya. Dan mulutnya segera saja bercerocos: “Oom (atau tante) siapa namanya, di mana tinggalnya, mengapa lengannya berbulu panjang.” Atau: “Mengapa sih bintang lebih banyak dari bulan dan mengapa tidak jatuh-jatuh seperti buah empelam.”

Ayah atau ibunya capek melayaninya dan sering-sering jadi kesal” “Meutia kapan kau henti bertanya?”

Meutia memang henti bertanya – tapi tidak lebih dari sepuluh menit. Setelah itu mulai lagi ia dengan kicauannya. Jika ia sendirian, tentu ia mengambil bonekanyayang dibikinin ibu dari kain-kain perca. “Hei, dakocan, siapa namamu?” Tentu saja boneka itu membisu. “mengapa kau diam, bego? Hei, hei – hei budek,” Meutia menampar-nampar pipinya, “anak siapa kamu? Mengapa kamu tak pernah be’ol?”

Andaikatapun Meutia diam, diamnya diam berpikir. Dalam kediamannya itulah dikumpulkannya seluruh pertanyaan dalam dirinya yang tak terjawab, untuk kemudian diajukan kepada orang yang pertama-tama ditemuinya.

Suatu hari dengan nafas yang tersengal-sengal Meutia menemui ibunya yang sedang merajang bawang di dapur. “Ibu?” katanya.

“Apalagi Meutia?”
“Apa artinya ‘ibu’?”

Ibu itu tersenyum, membelai ubun-ubun anak tunggalnya. Lalu, “Ibulah yang melahirkanmu, sayang.”

Mata Meutia yang hitam bundar itu berputar-putar. “Apa itu ‘melahirkan’? cetusnya.

Sesaat sang ibu ragu. “Mengeluarkan, mm…, mengeluarkan kamu dari perut ibu.”

“Dulu Meutia di dalam perut?!” serunya dengan heran, memandang perut ibunya. “Iddih.”
“Waktu itu kau masih kecil dan lemah sekali. Ibu harus melindungimu, sayang.”

Dahi anak itu mengerut, cuping hidungnya kempas-kempis. Katanya, “Tapi mengapa tidak ayah saja?”

Ibu tertawa. “Ayah harus kemana-mana untuk mencari uang buat kita. Ia pasti akan keberatan jika harus membawamu di dalam perutnya… Meutia, Meutia, tak habis-habisnya yang kau tanyakan…”

Jangankan Meutia, ibu sendiri tak tahu pekerjaan ayah. Kalau Ibu bertanya, ayah menjawab sepatah kata: ngojek. Jawaban itu dan dapur yang tetap berasap sudah cukup bagi perempuan sederhana itu.

Dulu, sang suami pernah menjadi pegawai, kemudian karena rasionalisasi, mencoba melamar ke sana kemari, sia-sia. Satu-satunya yang bisa dilakukan ya ngojek itulah. Hasilnya tidak banyak, tapi untuk mengempani tiga kepala yang hidup sederhana memadailah.

Apa pun pekerjaannya, Meutia bangga akan ayah. Ia merasa ayahnya yang paling gagah di antara semua ayah teman-temannya. Ayahnya yang paling hebat dalam penglihatannya. Hanya ayahnya yang “memiliki” banyak kendaraan. Kadang-kadang ayah naik skuter, lain kali dengan sepeda kumbang, kali lainnya mengendarai sepeda motor. Memang benar lebih banyak ia naik sepeda atau berjalan kaki, tapi sesekali juga naik mobil.

Pada ayahnya Meutia manjanya tak kira-kira. Begitu ayahnya datang ia sudah memburunya atau menantinya di ujung gang. Kalau ayah di rumah tentu ia sedang mengelendor di pangkuannya. Ada saja yang ia kerjakan dengan ayahnya. Menarik-narik hidung atau daun telinga, mengusap-usap bulu dada, mengorek-ngorek pusar, mengelitik-gelitik. Seringkali ia jatuh lelap di pangkuan ayahnya.

Makanya ia sedang ngambek kalau ayah terlambat pulang. “Benci’ deh, benci’! Ngelayap mulu sih…”

Satu waktu, ketika malam sudah larut tapi ayah belum pulang meutia menjadi marah besar. Ngambek. Tapi ayahnya tak mengerti mengapa ibunya menangis.

“Mengapa ibu menangis?” Ajuknya
“Mata ibu kena uap bawang.”
“Tapi kenapa ayah belum juga pulang?”

Ibu itu tak menjawab, malah ia menambah tangisnya. Jadinya Meutia ikut-ikutan menangis, walau ia tak mengerti mengapa ibunya menangis dan mengapa ia ikut-ikutan menangis. Memang ia suka ngambek kalau ayahnya terlambat pulang, tapi kalau sampai menangis tidak pernah.

“Benci’ deh! Kalau lambat pulang, bilang-bilang kek…” ia ngedumel.”

Hari-hari berikutnya hari-hari yang sepi bagi Meutia. Betul teman-temannya banyak dan ia sukai, tapi baginya ayah adalah segala-galanya. Ya, ayahnya, ya temannya, ya kakaknya, ya mainannya. Biar ia tanpa teman-teman, tanpa seluruh tetangga, tanpa es mambo dan mie bakso, asal bersama ayah. Hampir tiap lima menit ia menanyakan ayah. Bahkan kepada setiap yang lewat: “Tante (atau oom), lihat ayah Meutia?” Bahkan kepada boneka dan si Prawan, kucingnya, ia tanyakan. Tengah malam ia terbangun dan segera menanyakan ayah. Ibunyalah yang pertama-tama harus menjawab semua pertanyaan itu, tapi bagaimana menjawabnya?

“Emangnya ayah pergi ke mana, bu? Tuntutnya.
“Ayah pergi cari uang untukmu, yayang.”
“Tapi kenapa tak pulang-pulang. Kemarin-kemarin juga cari uang tapi selalu pulang, bukan?” Ibu terdiam.
“Kalau tak pulang, perginya kemana bu?” desak Meutia
“Pergi…, pergi ke tempat yang duitnya banyakan…”

Muka yang cantik itu cemberut. Rajuknya, “Biar duitnya banyakan, kalau yah nggak pulang-pulang, Meutia benci’ deh, - benci’, benci’… B-E-N-C-I!”

Sepanjang hari Meutia tidak mau makan. Sampai menangis, Ibu sambil membujuk, anak itu tetap membangkang. Nakalnya jadi keterlaluan. Piring nasi yang disodorkan dilemparkannya, membentur dinding dan pecah berantakan. Si prawan menerima bagiannya pula. Setiap kucing itu mencoba berhandai-handai dengan nona ciliknya, pasti kena sasaran. Kena tendang yang datangnya beruntun, timpukan batu atau pukulan gagang sapu, diludahi dan dikentuti. Dan caci-maki jangan kata lagi.

“Habis…, kita benci,” sungutnya.

ESOK paginya Meutia dibangunkan lebih cepat. Biasanya kalau dibangunkan ibunya, Meutia bangkit dengan segera. Tapi sejak ayah tidak di rumah, anak itu suka membangkang.

“Bukankah kau ingin ketemu ayahmu, sayang?”

Dengan cepat Meutia bangkit. “Ayah sudah pulang?” bersemangat dan tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Bola matanya yang hitam kental itu hidup kembali.

“Tidak Meutia, kita akan mengunjunginya.”

Meutia melompati leher ibunya dan membiarkan dirinya digotong ke kamar mandi. Kata-kata mengalir terus dari mulutnya.

“Tapi, di mana tinggal, ibu?”
“Oh…,tinggalnya, ayah tinggal di – di asrama…”
“Di asrama? Ngapain di sana. Ayah tidak tinggal sama kita lagi?”
“…ia sekolah. Suatu hari tentu ia akan kembali kepada kita.”

Mereka bertemu di sebuah kamar yang luas dari sebuah rumah yang teramat luas di mata Meutia. Pintu dan jendelanya besar-besar dan mesti ada jeruji-jeruji besinya, bahkan sampai-sampai ke lubang angin dan lubang got. Sekolah apaan ini, pikir Meutia. Tiba-tiba ia melihat ayah keluar, dan hampir ia berteriak dan memburunya kalau ia tidak melihat ayahnya diiringi seorang berpakaian seragam yang berwajah seram. Ayah tampak kurusan, wajahnya kuyu, matanya sayu. Jarang ibu memeluk ayah di depan Meutia, tapi sekali ini ibu merangkul ayah bukan saja di depan Meutia, tapi juga di depan banyak orang. Ibu menangis dan kelopak mata ayah basah. 

Melihat semua ini Meutia meraung-raung. Ayah segera merangkul Meutia, membenamkannya ke dadanya, dan Meutia memeluk leher ayah, menenggelamkan dirinya dalam-dalam ke relung dada ayahnya. Mereka bertiga bersirangkulan dan bersitangisan.

“Mengapa kau lakukan itu, Irham? Aku tidak menagih apa-apa darimu, bukan?” kata ibu dengan sesal. Kepala ayah terkulai.
“Kenapa kau terima juga barang titipan GAM itu, Irham. Irham, kau tak sayang kepada anakmu dan kepadaku…”

Ayah menarik nafas, nafas itu keluar dari hatinya yang menyesali. “Baru kali ini aku melakukannya, Sofia,” katanya dengan melenguh, “Kusangka bisa lolos dan mengakhiri kemiskinan kita…”

PENJARA itu hanya beberapa meter dari rumah Meutia. Selama ini ia tak pernah ke sana. Tapi kini hampir saban hari Meutia lewat di depannya, jika ibu kebetulan keluar menjajakan kain kepada kenalan-kenalannya. Tapi tak pernah dilihatnya ayahnya. Ingin ia masuk dan menanyakannya. Tapi sejak hari pertama bertemu di penjara, ia merasa ngeri melihat orang-orang berpakaian seragam. Wajah mereka kaku, jarang tersenyum, dan mata mereka sama sekali tidak ramah, sekalipun ketika mereka sedang tersenyum.

Akhirnya ibunya tahu kalau Meutia sering-sering lewat di depan penjara. Ia mau melarangnya, tapi tak sampai hati. Anak itu sudah berubah, pikirnya. Omongannya mulai kurang. Jika seseorang masuk ke halaman rumah, cepat-cepat ia lari ke depan dengan mata berharap. Tapi ternyata yang masuk bukan orang yang diharapkan-harapkannya, sorot matanya menjadi gelap kembali.

Suatu hari Meutia pergi ke penjara lebih pagian dari biasa, ketika ibu sedang tidak di rumah. Sekarang ia tidak saja lewat, tapi juga singgah. Di bawah pohon beringin di depan penjara ia duduk menunggu. Belum lima menit ia menanti, serombongan orang-orang berpakaian cabik-cabik dan kotor keluar melalui pintu gerbang penjara. Di bahu tersandang cangkul seorang satu, sebagiannya gembor penyiram tanaman. Kebanyakan kurus dan pucat, melangkahkan kakinya dengan hati yang berat.

Satu-per satu Meutia meneliti muka-muka yang keluar dari pintu gerbang jeruhi besi. Tiba-tiba hatinya bersorak. Mendadak sontak ia bangkit dan memburu ke sana.

“Ayah, ayah, ayah!!” teriaknya beruntun bagai tak putus-putusnya. Semua orang tercengang, ayah malah terperanjat. Dilihat Meutia beberapa orang berseragam melototinya, tapi ia tak ambil peduli.

“Meutia!”
“Ayah!”

Meutia melompati ayahnya, mereka berpelukan. Ayah menciumnya bertubi-tubi, seakan-akan tak akan habis-habisnya. Meutia mengganduli leher ayah erat-erat, meraba-raba telinganya, hidungnya, rambutnya, mencium kulit lehernya.

“Ayah,” sedunya, “mengapa ayah tak pulang-pulang. Mengapa…” Seseorang menyentakan ayah. Dan anak beranak itu jatuh bersama dengan Meutia di atas perut ayahnya.

“Irham! Kau telah melanggar peraturan penjara. Campakkan anak itu dan izin kerja luarmu kuusulkan dicabut!”

Perlahan-lahan ayah itu merenggangkan dirinya dari darah dagingnya sendiri. Meutia dengan ketakutan yang amat sangat mundur dan terus mundur, sampai ia tersandung akan beringin dan jatuh. Tapi tak seorangpun menolongnya berdiri. Aneh, anak itu menangis. Dengan wajah pucat ketakutan ia bangun lagi, membalik, lalu lari.

MEUTIA sudah duduk di kelas satu SD, ayah belum pulang juga. Benar ia tak pernah lewat di depan penjara lagi, benar ia tak pernah menanyakan ayahnya lagi, tapi itu tidak berarti ia telah melupakannya. Mulutnya diam, tapi matanya bertanya. Inilah yang membikin ibunya bersusah dan bersedih hati. Lebih baik anak itu meraung-raung, pikirnya daripada diam begitu, memendam sendiri seluruh keperihan hatinya, dengan mata yang menagih. Wajahnya pucat-pasi.

Jika Meutia berbaring di tempat tidur, matanya yang suram itu menatap langit-langit, tapi seperti tak melihat sesuatu di sana. Dan mata itu hanya awas terhadap suara langkah orang mendekat dan begitu orangnya tampak, mata itu merintih. Ini yang bukin hati ibunya seperti diremas-remas.

Suatu hari seorang Oom datang. Begitu melihat tampangnya, Meutia jatuh benci. Ia semakin membencinya ketika melihat cara orang itu menatap ibunya dan cara ibunya melayani orang itu. Pulangnya si Oom, memberinya uang, tapi Meutia Cuma menatapnya tanpa emosi. Lalu begitu saja ia pergi.

“Meutia!” seru ibu.

Tapi Meutia terus ngeloyor pergi seolah tak mendengarkan sesuatu. Untuk pertama kali ibu itu merasa hilang kewibawaannya.

Sementara ayah telah dipindahkan ke penjara lain sejak insiden itu. Barangkali sebagai hukuman akan kesalahannya melanggara peraturan penjara. Seseorang dari luar penjara tidak boleh begitu saja bertemu dengan orang-orang hukuman, tanpa mendapat izin  lebih dahulu dari petugas penjara. Belum tentu pelanggaran itu dilakukan orang hukuman, tapi yang pernah bersalah akan terus dianggap bersalah.

Tak seorang petugas penjara pun tahu ke mana pindahnya ayah. Ibu ingin langsung menanyakan kepada kepala penjara, tapi “Kepala terlalu sibuk” kata mereka. Terlalu besarkah kesalahan Irham, pikirnya, hingga bertemu dengan anak-istri sendiri tidak boleh? “Suami ibu membantu pelarian GAM, dan itu sama artinya menjadi anggota GAM,” jawab mereka. Atau setidak-tidaknya saya dapat mengetahui di mana ia berada? “Nanti setelah ia dibebaskan,” kata mereka lagi.

Hampir setahun kemudian suami dari seorang istri dan ayah dari seorang anak itu memang akhirnya pulang. Pulang dengan tandu dan sudah menjadi mayat. Agaknya kesedihan telah merenggutnya dari kehidupan. Ibu meraung-raung, tapi Meutia tidak. Ia Cuma menatap dengan air mata yang berlindang-linang. Dari mulutnya sepatah kata pun tak keluar, sebuah isak pun tidak. Utusan Kepala Penjara datang mengusap-usap kepalanya, tapi anak itu menepisnya. Matanya menatap dengan protes.

Sebenarnya hari sama sekali tak bersiap untuk menerima suasana duka cita. Udara terlalu cerah, matahari bersinar dengan garangnya, seakan hendak melelhkan bumi beserta isinya. Tapi bagi Meutia hari itu terlalu gelap. Ia bukan saja telah kehilangan ayahnya juga kehilangan dunia.

Hari-hari selanjutnya hari-hari tanpa makan bagi Meutia. Paling-paling sepotong roti, itu pun dengan enggan. Yang paling banyak adalah minum. Si Oom membelikannya susu, tapi yang diinginkannya cuma air putih. Tubuhnya semakin pucat dan semakin kurus. Biji matanya tetap hitam, tapi kehangatannya telah sirna. Dan pendiamnya sekarang seperti orang gagu. Dia Cuma bisa menggeleng dan mengangguk. Kalau ibunya bertanya, “Apa maumu Meutia, sayang?”, paling-paling ia hanya menjawab dengan sepotong kata: “ayah”. Dan ibu itu menjadi tersedu-sedu.

Setelah ayah Meutia diantar ke kuburan, si Oom tambah sering datang. Ibu tak kuasa menolak, karena di samping laki-laki itu hampir tak punya cacat (dan ia masih bujangan, katanya), ibu dan anaknya harus makan. Ibu itu memang benar-benar perempuan dapur. Selain memasak dan mengurus anak, ia tak bisa apa-apa. Kalu tidak dibantu si Oom, barangkali isi lemari pakaian sudah lama pindah ke tukang loak.

Yang membikin bingung ibunya, Meutia tak berujung tak berpangkal membenci si Oom. Taruhlah ketika ayah masih hidup hingga si Oom dapat dianggap saingan ayahnya, tapi sekarang? Bermacam-macam cara si Oom mencoba memikat anak itu, tapi Meutia tetap tak menyukainya. Setiap si Oom datang, Meutia mesti menyingkir. Kalau tidak ke rumah tetangga, tentu (hampir selamanya, kecuali malam-malam) ke kuburan ayahnya.

“Sejak ayah nggak ada, si Oom suka datang ke rumah,” ia mengadu kepada gundukan tanah yang menimbuni jasad ayahnya. “Meutia benci’, deh!” Kemudian air matanya berlinang, tak henti-hentinya berlinang.

Sang ibu mengetahui juga anaknya suka ke kuburan ayahnya, tapi ia tak kuasa melarang. Ia merasa anak itu sudah mulai menjauhinya. “Jangan-jangan Meutia sudah mulai membenciku”, keluhnya “Ya Tuhan”, ia memanjat doa, “cabutlah nyawa dari tubuhku, tapi jangan cabut cinta anak kandungku sendiri…”

Malam ia mencoba mendekati Meutia ketika mereka sudah berbaringan di tempat tidur. Ia mencoba berbicara dari hati ke hati.

“Meutia, yayang. Sayangkah engkau kepada ibu?”

Meutia diam, mata hitamnya menatap langit-langit.

“jawablah, Meutia. Oh…” Meutia mengangguk.
“Ibu mencintaimu, menyayangimu melebihi dari segala-galanya yang ada di dunia ini. Lebih baik ibu mati dari pada tidak mencintaimu dan tidak engkau cintai…”

Tiba-tiba Meutia membalik dan menerkam dada ibunya. Mereka berpelukan dengan eratnya, dan menangis dengan tersedan-sedan. Setelah mereda, ibu melanjutkan.

“Ibu mencintai ayah seperti juga engkau mencintainya… Tapi cinta tak usah ditunjukkan dengan wajah murung yang berlarut-larut. Ibu sekarang sangat rindu dengan kicaumu dulu. Ibu rindu akan mulutmu yang bijak dulu, yang tak henti-hentinya bertanya…”

Ibu menimbang-nimbang sekejap dua kejap. Lalu, “Ketika kita bertemu ayah pertama kali di pen…, di asrama itu, ayah berpesan agar menjagamu baik-baik, dan mendidikmu baik-baik. Itu hanya bisa kita lakukan bersama-sama, Meutia, aku dan engkau. Mengertikan engkau, yang?”

Anak itu diam mempermainkan lidah dalam mulutnya.

“Sekarang ayah sudah tiada… Kita tak dapat menunggunya lagi di dunia ini, kita hanya bisa bertemunya lagi di akhirat… Yang dapat kita lakukan, nak, mendoakannya. Mau pulang ke Aceh, kampung kita sudah dibakar orang, juga sekolah. Kita terpaksa bertahan di sini. Tapi seorang yang lain harus… - harus…”

Meutia menggelengkan wajahnya ke kiri. Yakni tempat ayahnya biasa berbaring dan bercanda dengannya menjelang tertidur, dahulu.

“…Bukankah – bukankah si Oom baik kepadamu, Meutia?”

Meutia tidak menjawab, bulu matanya yang hitam lentik itu dirapatkannya. Ia berbaring tak bergerak-gerak seakan-akan lelap.

“Oh, Meutia. Kalau dapat ibu tak kawin lagi. Sungguh, Nak! Tapi ibu tak dapat. Ibu tak dapat mencari uang sendiri. Itulah jeleknya jika perempuan itu bodoh… Kukira si Oom…”

Tiba-tiba Meutia membalikkan punggungnya, memantati ibunya

“Meutia benci!” serunya.
“Meutia, si Oom menyayangimu. Ia selalu menanyakanmu, keadaanmu…” Ibu masih berusaha membujuknya.
“Pokoknya, pokoknya benci! B-E-N-C-I!”
“meutia,” suara ibu jadi tinggi.

Meutia terisak-isak, dibenamkan mukanya ke bantal dan di sana air matanya membanjir. Ujung bantal digigit-gigitnya dengan geram. 

“kalau si Oom tinggal – tinggal bersama kita, Meutia  lebih baik pergi! Meutia lebih baik ikut ayah!”

IBU muda itu bingung. Menurutnya si Oom calon ayah tiri yang paling baik dan paling tepat untuk Meutia. Tapi entah mengapa anak itu membencinya tak tanggung-tanggung dan dengan alasan yang tak masuk akal. Sebenarnya ia ingin menjada saja demi Meutia. Tapi ia tak tahu bagaimana mencari uang. Dan lebih membingungkannya lagi, ia sudah termakan budi. Si Oom sudah berbuat segala-galanya untuk membantu mereka. Dialah yang membantu penguburan ayah, biaya dan pelaksanaannya. Dan biaya dapur sebelum dan sesudah ayah meninggal darimana kalau tidak dari si Oom?

Oleh karena itu ia tak dapat menolak kedatangan si Oom, walau ia tahu Meutia membencinya. Ia ingin menolak, tapi ia tak dapat. Jadinya ia bertambah bingung, ibu itu.

Sementara itu, tubuh Meutia boleh dibilang tinggal kulit dan tulang. Dua kali anak itu menderita. Batinnya, karena terus-menerus mengenang ayahnya. Jasmaninya, karena makannya enggan. Dan semakin rajin ia mengunjungi makam ayahnya, kadang-kadang dua kali sehari, pagi dan sore, terutama kalau hari libur. Pelajarannya jadi mundur. Meutia hari ini bukan lagi Meutia dahulu.

Ibu sudah menyerah apa kata nasib. Ia merasa sudah gagal sebagai seorang ibu, dalam hal ini ibu Meutia. Tapi perempuan itu masih mencoba berusaha, barangkali untuk akhir kalinya. Ketika suatu hari Meutia ke kuburan ayahnya lagi, ia mengikutinya di belakang. Siapa tahu di depan kuburan ayahnya, anak itu bisa diinsyafkan. Sesampai ia di sana ibu itu melihat anaknya menatapi makam ayahnya bagai tak berkedip. Wajahnya tanpa emosi, kecuali matanya yang bercerita banyak tentang penderitaannya, tentang rindu di dendamnya kepada ayahnya.

“Ayah, Meutia ingin ikut ayah. Bawalah Meutia…”

Ibu itu tak tahan. Niatnya mau membujuk Meutia di depan kuburan ayahnya urung. Ia lari memburu ke rumah dan di atas ranjang ia bergulat dengan tangisnya. “Tuhan”, ratapnya, “Siksalah aku, tapi jangan siksa anak itu. Kalau memang itu maksudMu, ambillah ia, jangan lagi Kau menyiksanya.”

Malamnya hujan turun teramat lebat, tak putus-putusnya sampai dini hari. Tengah malam Meutia masuk angin, dan dini hari ia menyusul ayahnya.

“Meutia, kapan kau berhenti bertanya?” Ibunya dulu sering berkata padanya. Sekarang, Meutia benar-benar sudah berhenti bertanya.

(Kepada Almarhumah Cut Azizah, kemenakanku)

Cerpen Tentang Ayah Dan Anak

AYAH DAN ANAK
 (Bjornsteme Bjornson)

Lelaki yang diceritai dalam kisah ini adalah seorang yang berpengaruh dan paling dan paling kaya di desanya. Namanya Thord Overaas. Ia muncul di rumah pendeta pada suatu hari. Tubuhnya tinggi dan dia tampak bersungguh-sungguh.


“Aku  baru saja memiliki seorang putera,” katanya, “dan aku ingin agar ia dipermandikan.”

“Akan diberi nama apa dia?”

Finn-seperti nama ayahku.”

“Para saksinya?”

Ia menyebutkan sederetan nama yang merupakan tetangga terdekatnya di desa itu.

“Ada lagi yang lain?”

Petani itu ragu sejenak.

“Aku ingin agar ia dipermandikan secara khusus, seorang diri,” ujarnya.

“Dalam minggu ini?”

Cerpen Tentang Ayah Dan Anak
“Sabtu depan, pukul dua belas siang.”

“Ada lagi yang ingin kau katakan?” tanya pendeta.

“Tidak ada,” lalu ia menyentuh topinya, seolah – olah akan pergi.

Pendeta bangkit berdiri. Ia menghampiri Thord, memegang tangannya, dan menatap lekat dengan matanya, “ Tuhan menganugerahkan anak ini sebagai berkah untukmu!”

“Sungguh, kau tampak awet muda, Thord,” kata pendeta saat melihat bahwa tak ada yeng berubah dalam penampilan Thord

“Itu karena aku tak punya masalah,” jawab Thord.

Pendeta tak berkata apapun, kemudian ia bertanya, “Apa yang membuatmu kemari malam ini?”

“Aku datang sehubungan dengan puteraku yang akan mengikuti wisudah sekolah gereja besok.”

“Ia anak yang cerdas.”

“Aku ingin tahu pada urutan keberapa ia akan mendampat giliran berdiri di gereja besok.”

“Ia akan berdiri di sana pada urutan pertama.”

“Aku kini sudah mengetahuinya. Ini uang sepuluh dolar untuk Pak Pendeta.”

“Ada lagi yang bisa kubantu?” tanya pendeta.

“Tak ada.” Thord beranjak pergi.

***

Delapan tahun telah berlalu dan pada suatu hari terdengan suara ribut di luar rumah pendeta ketika beberapa orang datang mendekat. Thord berada paling depan, ia masuk pertama kali.

Pendeta menatapnya dan mengenalinya

“Kau tampak sehat, Thord,” ujarnya.

“Aku ingin mengumumkan pernikahan puteraku dengan Karen Storliden, anak perempuan Gudmund, yang berdiri di sampingku.”

“Ia akan menjadi gadis yang paling kaya di desa ini.”

“Begitulah.” Jawab petani itu seraya mengelus rambutnya dengan sebelah tangan.”

Pendeta duduk berdiam diri sejenak seraya berpikir, lalu ia menuliskan nama-nama itu dalam bukunya tanpa berkomentar, dan mereka menandatanganinya. Thord meletakan uang tiga dolar di atas meja.

“Cukup satu dolar,” kata pendeta.

“Kali ini kali ketiga kau datang untuk puteramu, Thord,”

“Tapi kini aku telah menyelesaikan tugasku.” ujar Thord, ia berpamitan dan pergi keluar. Orang – orang itu perlahan – lahan mengikutinya.

Esok malamnya, sang ayah dan anak berdayung melintasi danau menuju kediaman keluarga Storliden untuk menyusun acara pernikahan.

“Penghalang ini tidak aman,” kata si anak dan berdiri untuk meluruskan tempat duduknya.

Pada saat bersamaan papan tempatnya berpijak terlepas, ia mencoba menjaga keseimbangan, namun kemudian terjatuh ke danau diiringi sebuah pekikan.

“Berpeganglah pada dayung,” seru ayanya. Ia menjulurkan tubunya dan mengulurkan dayung. Ketika anaknya mencoba bergerak, tubuh pemuda itu mengejang kaku.

“Tunggu sebentar!” teriak sang ayah dan mulai mendayung mendekati anaknya. Anak itu hanya mampu menatap ayahnya dengan sebuah tatapan panjang, lalu perlahan-lahan tenggelam.

Thord tak mempercayai kenyataan itu. Ia mencengkeram ujung perahu dan menatap titik di mana anaknya tenggelam, seolah-olah ia merasa yakin bahwa tubuh itu akan kembali muncul di permukaan danau. Terlihat gelembung-gelembung udara dan akhirnya lingkaran lebar yang kemudian menghilang, lalu danau itu kembali tenang seperti cermin.

Selama tiga hari tiga malam orang-orang melihat sang ayah berdayung mengelilingi tempat itu tanpa makan dan tidur. Ia mencari mayat anaknya. Pada suatu pagi di hari keempat ia menemukannya dan membopong mayat itu ke bukit, ke ladangnya.

Sekitar setahun setelah itu, di sebuah malam yang larut di musim gugur, pendeta mendengar suara seorang di luar rumahnya. Ia membuka pintu, dilihatnya seorang lelaki bertubuh tinggi kurus dengan sosok agak bungkuk dan rambut memutih. Pendeta lama menatap sosk itu sebelum berhasil mengenalinya. Ia adalah Thord.

“Apakah kau bisa pergi di larut malam?” tanya pendeta.

“Ya, ini memang sudah larut malam,” ujar Thord, ia lalu duduk.

Pendeta ikut duduk, menunggu. Kesunyian yang panjang melingkupi mereka. Akhirnya Thord berkata, “Aku ada sedikit yang ingin kudermakan  pada orang-orang miskin. Aku ingin menjadinya sedekat atas nama puteraku.”

Ia bangkit dan menaruh sejumlah uang di atas meja, kemudian duduk kembali. Pendeta menghitungnya.

“Ini banyak sekali.”

“Itu setengah dari harga ladangku. Aku menjualnya hari ini.”

Pendeta duduk berdiam diri cukup lama. Lau ia bertanya lembut,” Apa yang akan kau lakukan selanjutnya Thord?

“Sesuatu yang lebih baik.”

Mereka duduk di sana untuk beberapa saat. Thord dengan pandangan tertunduk  dan pendeta dengan sepasang mata terpaku pada lelaki itu. Kemudian pendeta berkata dengan perlahan-lahan dan lembut. “Kukira pada akhirnya puteramu telah membawa berkah sejati untukmu.”

“Ya, kukira memang begitu,” ucap Thord. Ia menatap wajah pendeta, dua tetes air mata berlindang membasahi pipinya.


Bjomstjeme Bjomson (1832-1910). Peraih Hadiah Nobel Sastra 1903. Ia dikenal dengan sajak-sajaknya yang anggun dan penuh daya hidup, selain berbagai karya prosanya. Karya-karyanya meliputi naskah drama, Norwegia ini adalah A Gauntlet (1883). Dalam cerpen-cerpennya, ia banyak berkisah tentang petani di pedesaan kawasan Skandinavia.

RENCANAKAN SEGALANYA KECUALI MATI 

Friday, July 28, 2017

Cerita Anak: Kak Dimas

Cerita Anak: Kak Dimas
PAGI belum merekah saat pintu rumah terketuk. Mula-mula ibu bangun, diikuti ayah. Lalu terbitlah suara ibu pertanda keterkejutan. Aku yang masih sedikit ngantuk terpaksa memicingkan mata. Belum lagi mengucek mata, tubuhku terasa berat tertindih.

”Dede, bangun Dede....”
Suara itu aku kenal dengan baik. Itu Dimas, Dimas kakakku.
”Kakaaak...,” seruku sambil memeluk Kak Dimas.

Sepintas ibu menggelengkan kepala melihat tingkah kami berdua. ”Sudah, sudah,” katanya lembut. Ibu bilang Kak Dimas perlu beristirahat sehabis melakukan perjalanan jauh. Aku pun dengan cemberut melepas pelukan. Rasanya masih kurang melepas rindu pada kakakku satu-satunya itu.

Ya, semenjak umur tiga tahun, Kak Dimas tinggal bersama nenek. Sekarang dia berumur sebelas tahun. Lantaran dianggap sudah cukup, Kak Dimas ”dikembalikan” pada keluarga sebenarnya. Kak Dimas diantar oleh salah satu pamanku, yang pada malam harinya langsung kembali ke kampung.

Kak Dimas ganteng benar. Kulitnya hitam sebab suka bermain di sawah. Gupak. Bergelut dengan lumpur. Aku pun membayangkan dia seperti Bolang, bocah petualang.

Jadi, hari-hariku bakal tambah semarak. Ada kakak, berarti bertambah juga teman bermain.

* * *

Namun, bayanganku mengenai kakak yang baik perlahan sirna. Kak Dimas tak sepenuhnya seperti yang kukenal saat hanya bertemu waktu libur Lebaran. Dia cenderung egois. Dia juga sering mengancam ini-itu kalau keinginannya tidak terpenuhi. Bahkan tak hanya padaku, adiknya, kepada ayah-ibu Kak Dimas juga berani melawan. Jika dia lapar dan belum ada makanan tersaji, Kak Dimas bisa ngamuk. Membuang segala macam agar ibu cepat-cepat memasak.

Yang paling membuat kecewa, Kak Dimas suka sekali menyembunyikan sandal atau sepatuku. 

Aku sudah mengidam-idamkan sepatu crocs, sampai harus merengek-rengek pada Bibi supaya dibelikan. Bibi yang menyayangiku itu tak kuasa menolak, dan saat gajian Bibi langsung memberi hadiah sepatu itu. Namun beberapa hari kemudian, sepatu crocs idamanku itu tinggal sebiji. Aku pun menangis meraung-raung.
Pelakunya siapa lagi kalau bukan Kak Dimas.

Ibu, Bibi dan ayah beramai-ramai menyidang Kak Dimas.
”Di mana sepatu adikmu itu?” kata ibu. Kak Dimas diam saja.
”Nduk, itu sepatu mahal yang Bibi beli kemarin. Kamu kemanakan sepatunya?” timpal Bibi. Wajah Kak Dimas kian mengerut.
”Lupa,” katanya singkat.
”Apanya yang lupa? Kamu lupa menaruh sepatunya? Ayo cepat tunjukkan!?” dengan suara tinggi ayah memaksa Kak Dimas buka suara lagi. Tapi bukannya menjawab, sorot mata Kak Dimas balas menatap wajah ayah, seperti mau menantang.

Aku ketahui kemudian, Kak Dimas memang benar-benar lupa. Dari beberapa teman, kuketahui Kak Dimas suka melempar-lempar sandal atau sepatu dengan kakinya. Lama-lama salah satu sandal itu terlempar beneran hingga tersangkut atap rumah yang sulit dijangkau lagi. 

Kenakalan Kak Dimas tak berhenti. Dia suka sekali ikan. Kebetulan, tetangga memiliki kolam hias berisi ikan warna-warni. Aku sudah sering melihat-lihat kolam itu bersama kawan-kawan lainnya. Namun bagi Kak Dimas tak cukup hanya melihatnya. Dia nekat nyemplung mengejar ikan-ikan itu. Kolam jadi riuh dan butek. Beberapa ikan jadi mabuk.

Saat tetangga mengonangi kami, kami pun lari lintang pukang. Aku ketakutan betul saat si tetangga berteriak bakal memanggil polisi. Aku sudah membayangkan Kak Dimas akan dipenjara.

Syukurlah hal itu tidak terjadi. Itu hanya gertakan, tapi sudah cukup membuat Kak Dimas kapok.

* * *

Oh ya, Kak Dimas baru kelas tiga meski harusnya sudah kelas lima atau enam. Dia juga belum bisa baca dengan lancar, kalah oleh aku yang sudah duduk di kelas dua (kami berbeda usia lima tahun!). 

Kata ayahku, Kak Dimas kesulitan membaca. Dia sebenarnya normal, tidak bodoh maksudku. Namun entah kenapa, Kak Dimas sulit membedakan kanan dan kiri. Akibatnya, dia suka menukar-nukar huruf saat menulis.

Aku masih terlalu kecil buat memahami maksud ayah. Tapi yang pasti, biarpun Kak Dimas nakal, aku akan tetap membantunya. Bagaimanapun dia adalah kakakku yang kusayangi.

BACA JUGA:

RENCANAKAN SEGALANYA KECUALI MATI 

Thursday, July 27, 2017

Kumpulan Cerpen Karya T.I. Thamrin Pria Berdarah Aceh

Kumpulan Cerpen Karya T.I. Thamrin Pria Berdarah Aceh
T.I. Thamrin begitu ia dikenal. Menulis sejak SMP di Jakarta (1953). Nama aslinya Teuku Iskandar Ali bin Sabil. Lama tenggelam ketika itu, ia meminjam nama kemenakannya ketika menulis kembali di kompas dan sinar harapan pada awal 1970-an. Dan kemudian pria kelahiran Langsa, Aceh Timur, 12 Agustus 1936 ini tenggelam kembali.

Bekas penyadap karet getah (di Langsa) dan pedagang kaki lima (di Jakarta) itu pernah berdagang rempah-rempah di Pasar Induk sayur dan Buah di Kramat Jati, Jakarta. Juga pedagang buah dan sayur antar kota. Terlalu percaya pada anak buah dan rekan bisnisnya membuat bisnisnya bangkrut.

Jebolan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada ini pun kembali ke tulis-menulis. Sejak 1988, ia berturut-turut bekerja di majalah majalah: Ambassador, Kadin, Tempo, dan Matra. Ia ikut menjadi terdakwa – bersama Bambang Harymurti dan ahmad Taufik – dalam kasus tempo melawan konglomerat Tomy Winata yang merasa namanya dicemarkan oleh ketiganya karena dikaitkan dengan kebakaran di Pasar Tanah Abang, awal 2003. Setelah di sidang selama setahun, ia dan Taufik diputus bebas.

Beberapa karya T.I. Thamrin yang pertama dibukukan di tahun 2003 memenangkan dua Lomba Cerpen Gonjong II, untuk cerpennya berjudul yeyet. Satu cerpen lainnya yaitu Hidung Pesek Seorang Bidadari (Bidadari pesek)

Dari istrinya, Tati Iskandar, ia memperoleh tiga anak perempuan: Cut Irma Mariksa, Cut Tisa Mariska dan Cut Sheila Mariksa.

Berikut ini adalah kumpulan cerpen karya T.I. Thamrin:

1. Meutia Sudah Berhenti Bertanya
2. Cut Nyak Maneh
3. Agam
4. Lukamu Abadi, Za
5. Tangan Kiri Tak Usah Tahu
6. Rencanakan Segala-Galanya Kecuali Mati
7. Perut Luka
8. Pertemuan Dan Perpisahan
9. Kamp Di Atas Bukit
10. Bunuh Diri
11. Yeyet
12. Bidadari Pesek
13. Mbakyu
14. Abortus
15. Si Bungkuk Dan Nona Doktoranda
16. Jembatan Penyeberangan
17. Kekerasan Kalangan Eksekutif.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com