Showing posts with label Ragam Seni. Show all posts
Showing posts with label Ragam Seni. Show all posts

Saturday, July 29, 2017

Macam-Macam Gaya, Corak dan Isme Seni Rupa

Macam-Macam Gaya, Corak dan Isme Seni Rupa
Kelahiran-kelahiran seni rupa yang berbeda-beda tiap-tiap jaman dikarenakan masing-masing jaman itu memiliki aliran-aliran pikiran yang berbeda. Masing-masing jaman melahirkan karya-karya seni rupa dengan ciri-cirinya masing-masing. Adakalanya pada satu jaman lahir aliran-aliran pikiran-pikiran yang berbeda-beda, sehingga melahirkan pula corak karya seni rupa yang berbeda.

Lebih Jelasnya Baca: Mengenal Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Seni Rupa
   

Jadi yang dimaksud dengan gaya dalam seni rupa adalah corak atau isme yang dikarenakan aliran-aliran pikiran yang mendorong atau melatar belakangi kelahiran karya seni rupa itu.

Karena adanya perbedaan-perbedaan konsepsi pikiran dari mmasing-masing jaman, maka masing-masing jaman melahirkan kesenian yang mempunyai ciri-ciri yang khusus. Adanya bermacam gaya, corak atau isme itu mempunyai pesona-pesona sendiri yang khusus dan khas. Di samping itu, tiap-tiap aliran corak, gaya atau isme itu mempunyai tujuan tertentu atau fungsi sendiri-sendiri. Atau tiap-tiap aliran itu mempunyai cita-cita sendiri, sesuai dengan pikiran jamannya.

Karena cita-cita seni yang berbeda-beda, yang satu kearah kemanusiaan, yang satunya kearah keTuhanan dan sebagainya, maka karya-karya seni itu memperlihatkan wujud yang berbeda-beda. Namun demikian kesenian mempunyai aspek-aspek persamaan. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa mutu suatu ciptaan terutama pada sifatnya yang khas, yang tak ada pada ciptaan lain untuk mencari karya yang khas, unik dan tidak ada duanya itu, maka orang menolah ke masa seni primitif. Kesenian primitif kesederhanaanya menimbulkan kesan yang mengagumkan. Kesenian primitif tidak dibuat atas dasar-sadar artistik tetapi dibuat atas dasar sadar magis. Benda yang dibuat tidak ditujukan sama sekali untuk benda seni yang menarik (artistik), tapi sebagai benda sakti. Contoh: Patung-patung suku Asmat dari Irian sungguh menarik pesona seni orang-orang modern, meskipun karya-karya itu tidak memiliki keindahan menurut pesona seni klasik.

Kita sering keliru menilai suatu karya seni dan menilai tidak dari karya seni itu sendiri pada jamannya, melainkan dengan kriteria dari luar jaman karya seni itu. Biasanya kita menggunakan ukuran masa kini atau masa klasik untuk menilai karya seni primitif.

Gaya klasik semula dimaksudkan ialah kesenian Yunani Kuno. Di Indonesia kesenian dan kesusastraan Hindhu dianggap klasik. Kadang-kadang kesusastraan Melayu juga disebut klasik. Ciri-ciri klasik adalah tenang, romantis, symetris atau seimbang. Contoh: wayang kulit, patung dari jaman Hindhu dan sebagainya.

Lawan dari klasik ialah seni romantik, yang dengan sadar mengingkari keseimbangan klasik, bentuk teratur dan tradisional. Sedangkan romantik menyampaikan realitas dan mengikuti emosi, terutama emosi yang dramatis dan tragis yang amat menarik. Para seniman romantik mengubah ralitas dengan berdasarkan fantasinya dan selanjutnya sesolah-olah hidup di dalam impian.

Dengan demikian wajarlah para seniman romantik mencari obyek yang bisa merangsang fantasi-fantasinya dan bisa memberi jalan untuk melahirkan rasa romantisnya. Pelukis romantis Indonesia yang terkenal adalah Basuki Abdullah dengan buah karyanya yang menawan penggemarnya.

Di Barat romantik berkembang pada bagian akhir abad ke 18 atau pada permulaan abad ke 19, bersamaan dengan aliran neo-klasik. Neo-klasik adalah aliran ysng berorientsi pada kebenaran dan keindahan Rococo yang berkembang di Perancis pada pertengahan abad ke 18

Apabila gaya rococo mencerminkan kehalusan dan permainan cinta serta keinginan  menghias tanpa tujuan tertentu, maka gaya neo-klasik ialah suatu jawaban terhadap kerinduan pada masa silam dari kesenian negara tua. Ciri-cirinya:
  1. Mengagung-agungkan bentuk,
  2. Komposisi seimbang,
  3. Gerak tidak berlebih-lebihan,
  4. Warnanya dingin dan
  5. Obyek tentang sejarah dan mitologi.
Contoh karya no-klasik adalah karya-karya Jacques Louis David yang menunjukkan adanya kemahiran dalam anatomi dan ketelitian dalam membuat lipatan-lipatan kain serta penyusunan figur-figur seimbang.

Perbedaan dengan corak Barok nampak jelas. Gaya Barok titik berat di segala jurusan,tidak ada keseimbangan synetris. Warna dan sinar kontras dan serba bergerak. Ukuran tafril serba besar. Sedangkan seni klasik, titik berat pada tengah-tengah lukisan, seimbang dan symentris. Karya Korevoor dan Hesseling adalah salah satu contoh gaya Barok yang memperlihatkan bermacam-macam efek yang bergerak dengan kontras yang kuat sekali.

Sesudah gaya romantik, berturut-turut timbul realisme, impresionisme dan ekspresionesme.Realisme di bedakan naturalisme. Realisme tidak seperti hal romantik yang hanyut pada emosi individual, melainkan tingkah laku di dunia pada umumnya. Jadi terletak pada arah kebenaran umum dalam hal ini kehidupan sosial. Di barat karya Daumier adalah contoh yang baik untuk gaya realisme. Dan Di Indonesia kita dapat menunjuk karya-karya Henk Ngantung yang menggambarkan kehidupan para petani, buruh dan nelayan dari tingkat kelompok sosial bawah.

Apa yang telah di paparkan di atas sebagai gaya ralis yang berbeda dengan gaya naturalis. Gaya naturalis selalu mewujudkan seperti terlihat dalam alam. Dalam lukisan naturalis seniman menghubungkan hal-hal kecil sebanyak mungkin, membangun lukisan secara teliti dan terperinci dengan selalu mengulang supaya mirip dengan benda sesungguhnya secar foto grafis dengan memperhatikan bentuk maupun tekstur, refleksi warna dari satu benda terhadap yang lain dan sebagainya. Contoh karya naturalis yang banyak adalah karya-karya Abdullah Surio Subroto yang senang melukis obyek-obyek   pemandangan di sekitar gunung merapi dan alam pengunungan yang indah.

Gaya impresionisme menggunakan bintik-bintik bersih dari warna-warna yang di letakkan terpisah (berjajar) satu persatu yang mempertinggi kecemerlangan warna satu terhadap yang lain. Hasilnya melahirkan efek-efek yang menggetar pada mata pengamat. Contoh karya-karya impresionisme adalah karya-karya seniman: Monet, Manet, Vincent van Gogh and sebagainya. Di Indonesia karya Gusti Ngurah Gede pemecutan yang bergaya pointilisme adalah salah satu contoh gaya impresionisme.

Apabila gaya impresionisme hanya menangkap kesan luar dari suatu obyek yang dilukiskan dengan warna cahaya yang meleleh, lain halnya dengan ekspresionisme. Aliran ini mengutamakan (untuk lukis) kesan dalam yang bersifat bathiniah. Melalui ekspresionisme, seniman sedang berusaha mengungkapkan perasaan yang biasanya ada, ialah sesuatu yang menyedihkan. Tidak ada suatu kemungkinan untuk melihat lukisan-lukisan macam ini, tanpa merasakan sesuatu dari konflik bathin yang menggerakkan jiwa. Lukisan ekspresionisme memaksa pengamat berfikir tentang bentuk serta distori warna yang dipergunakan sebagai bahasa oleh pelukisnya. Contoh karya Vincent van Gogh dan El Greco. Di Indonesia karya-karya Affandi adalah contoh yang baik bagi gaya ekspresionisme. Pada aliran ekspresionisme, seniman berusaha mengungkapkan kesadaran jiwanya yang dalam terhadap obyeknya. Jadi corak ekspresionisme itu sesungguhnya mengambarkan bagaimana sesungguhnya perasaan jiwanya terhadap obyeknya, bukan lagi menggambarkan kesan rasa luar dari suatu obyek. Corak ekspresionisme lebih mementingkan ekspresi, yaitu pernyataan bathin yang selalu tumbuh karna dorongan akan menjelmakan perasaan atau buah pikiran. Pada corak ekspresionisme itu yang diutamakan inti sari atau hakekat, jadi soal “di dalam” atau ada juga yang mengatakan soal “kejawaan”.

Oleh karena yang diungkapkan soal kejiwaan, sedangkan jiwa itu sesuatu yang abstrak, yang wujudnya ada kalanya abstrak. Corak ekspresionisme  inilah menjadi dasar seni modern  dengan beberapa cabangnya seperti: kubisme, fauvisme, purisme, futurisme, dadaisme, surrrealisme, naif-primitifisme dan sebagainya.

Baca Juga: Pengertian Dan Tujuan Seni Rupa

Kubisme, adalah nama bagi suatu aliran dalam seni lukis dan seni pahat modern yang lahir pada tahun 1908. Aliran ini mula bertujuan unruk mempersahajakan benda-benda menjadi bentuk-bentuk geometris, kemudian lebih bercorak dekoratif dan non- obyektif.

Penganjuran pertama adalah Pablo Picasso dan Brauque. Karya Pablo Picasso yang bergaya kubisme yang terkenal adalah lukisannya yang berjudul “Guernice” (1937). Sebenarnya lukisan ini kombinasi gaya ekspresionisme, surrealisme dan kubisme. Lukisan ini adalah buah dari reaksi  kemarahan Picasso atas pengeboman semena-mena oleh angkatan udara jerman atas Guernice yang sama sekali tidak dipertahankan secara militer.

Fauvisme, adalah aliran dalam seni lukis yang bereksperimen dengan bentuk. Karena kebebasannya menggambarkan bentuk, maka oleh pelukis tradisional disebut “pelukis liar” bahasa perancis (fauve = binatang liar), nama yang dikarang oleh L.Fauxelles (1903). Ciri-cirinya: warnanya kuat, sapuan-sapuannya lebar berjejer dan berdampingan dan  pingiran warna-warnanya dilunakkan. Lahir dan berkembang pada tahun 1904-1909. Tokoh-tokohnya: Matisse, Drain dan Vlaminch.

Purisme,adalah aliran dalam seni lukis yang amat menyederhanakan elemen-elemen kontruksi dan sangat membatasi pemakaian warna. Bahkan dikatakan, purisme adalah pengolahan lebih lanjut terhadap kubisme. Tokohnya adalah Ozenfant.

Futurisme, adalah suatu gerakan sastra yang bercorak politik. Lahir pada tahun 1909 oleh seorang Italia F.T. Marinetti dengan suatu manifes yang menganjurka sifat sportif dan pro terhadap segala apa yang dapat memajukan tehnik dan kecepatan. Sebaliknya ia menentang kepada apa yang masih berhubungan dengan waktu lalu. Anti terhadap setiap sikap yang berdasarkan filsafat atau sikap hidup yang didapatkan secara intelektualistis. Kehidupan seni rupa waktu itu sangat dipengaruhi, sebagai reaksi terhadap akademisme yang mundur waktu itu di Iitalia.

Lukisan-lukisan futurisme mengutamakan gerak sehingga lahir macam-macam gerak dari suatu benda. Ssemuanya dilihat dari pangkal tolak motoris (gerak). Pelukis futurist melukiskan benda-benda tidak lagi dari suatu tempat tertentu, tapi mengumpulkan penangkapan kesan menjadi satu gambaran atau kombinasi, fragmen dari pengamatan menggugah. Selanjutnya mereka melahirkan gerak dan kekuatan dan juga buah dan suara dari pada warna dan garis. Mereka melemparkan jauh-jauh dari prinsip perspektif.

Dadaisme, adalah suatu gerakan yang radikal sekali di kalangan pelukis dan pujangga-pujangga, yang menentang segala macam kesenian yang telah diakui dan anti terhadap nilai-nilai tradisional.

Perkataan “dada” berasal dari bahasa Perancis, yaitu perkataan yang diucapkan anak kecil baru belajar berkata-kata. Perkataan “dada” juga berarti “hobby” suatu pekerjaan yang digemari. Gaya dadaisme muncul sewaktu perang dunia I di Swiss dan mengalami kemajuan dengan pesat sesudah tahun 1908, terutama di Perancis dan Jerman. Tokohnya di bidang seni lukis adalah Hans Arp.

Surrealisme, adalah aliran untuk melukiskan suatu aktivitas jiwa manusia, yakni aktifitas jiwa yang masih dalam keadaan bebas, yang belum terkekang oleh kaidah-kaidah logika, etika, estetika dan sebagainya.

Jadi surrealisme ini hendak melukiskan pengalaman manusia secara sedalam-dalamnya. Aliran ini lahir sejak terbitnya manifes yang ditulis oleh A. Breton (manifesto du surrealisme) pada Tahun 1942 dan memuncak antara tahun 1934 – 1938. Karya-karya yang tergolong surrealis adalah buah karya: Savador Dali, M. Chagall dan Paul Klee.

Naif – Primitifisme, aliran dalam seni luis yang sederhana kekanak-kanakan. (Naif artinya = kekanak-kanakan, primitif artinya = sederhana. Aliran ini diikuti oleh pelukis Henri Rousscau (1844 – 1910), Moris Utrillo dan Marval.

Corak dan gaya seni modern ekspresionis tidak terbatas oleh objek-objek tertentu. Akibat dari pada luasnya daerah seni modern itu, maka variasi yang terdapat di dalamnya tidak terhingga pula jumlahnya sehingga tidak mungkin untuk memasukkannya dalam sesuatu devenisi yang normal. Seni modern berkisar dari yang paling realistis sampai kepada yang paling abstrak.

Pengertian Dan Tujuan Seni Rupa

Pengertian Dan Tujuan Seni Rupa
Alat-alat yang kita pergunakan sehari-hari dewasa ini banyak atau sedikit dipengaruhi oleh macam-macam pengejawantahan seni. Apabila menengok alat-alat yang dipergunakan oleh orang-orang dari jaman dahulu kala (primitif), juga dipengaruhi oleh segala macam pengejawantahan seni. Kehidupan mereka juga diperkaya dengan sentuhan-sentuhan seni, meskipun mereka tidak menyadari adanya hubungan ini. Artinya mereka secara tidak sadar masyarakat manusia yakni membantu menyediakan dan membentuk latar belakang hekekat kehidupan.
Menurut Upjohn,wingert dan Mahler (1949) tujuan seni rupa dikatakn sebagai berikut:
“Seni ialah jawaban terhadap tuntutan dasar kemanusiaan. Tujuan utamanya ialah menambahi interpretasi dan melengkapi kehidupan. Adakalanya pada suatu waktu, seni itu dijadikan pembantu untuk tujuan lainnya, seperti pengagungan agama, propaganda, symbolisme dan sebagainya, tetapi dalam analisis terakhir tujuan ini jauh atau tidak bertentangan dengan tujuan utamanya.”

Baca Juga:
Macam-Macam Gaya, Corak Dan Isme Seni Rupa
Mengenal Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Seni Rupa

Berdasarkan pendapat di atas, sepanjang perjalalan sejarah seni rupa ia mengemban misi sesuai dengan kehendak jaman dan pendukungnya. Ia ada kalanya mengandung ekspresi tentang pelajaran budi pekerti, seperti karya-karya (lukisan-lukisan) yang mengambil kisah dari Tantri Kamandaka; ada kalanya bersifat allegory, seperti lukisan Rubens (pelukis terkenal dari Belgia) yang berjudul “Henry IV Recciving The Protrait of Maric de’medice….Dalam lukisan itu kita melihat raja sedang melihat potret Mariede, Medici yang dipegang oleh dewa perkawinan (Hymen) dengan lenrannya berupa awan. Di belakang raja yang berpakaian perang itu berdiri Bellona dewi perang yang bertopi helm bersama-sama raja sedang melihat potret itu. Lukisan itu dimaksudkan memeriahkan pernikahan Mariede’ Medici dan Henry IV.” Lukisan yang bersifat allerogi banyak terdapat di Bali. Sebagai satu contoh, lukisan yang berjudul Arjuna Wiwaha (anaonim, kin disimpan di museum Bali Denpasar). Lukisan ini melukiskan adegan Arjuna menasehati Dewi Supraba agar menerima  lamaran raksasa Niwatakawaca untuk memata-matai kelemahan raksasa itu, karena raksasa itu akan menghancurkan sorga.

Adakalanya karya seni rupa itu berupa ilustrasi dari cerita yang bersumber dari agama, seperti relier yang dipahat pada dinding-dinding candi borobudur ataupun Prambanan dan sebagainya. Ada karya seni yang bersifat symbolis, seperti patung-patung Budha Dan Mudrya dan sebagainya. Adakalanya karya seni itu mengambarkan kebiadaban sesuatu exotic; sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan; sesuatu fantasi dan lain sebagainya. Semboyan “Seni untuk Seni” menempatkan kehadiran seni itu bukan untuk tujuan lain dari pada seni itu sendiri. Seni semata-mata untuk seni. Semboyan ini adalah teori seni Perancis yang dilancarkan oleh Victor Cousin dan dikembangkan oleh Fluber dan Th. Gantier pada abad 19. Kehadiran semboyan itu bermaksud agar seni itu tidak dipergunakan untuk mempertahankan atau menentang nilai-nilai susila, sosial, politik, ekonomi dan sebagainya yang sama sekali tidak berhubungan dengan seni. (Encylopedia).

Kenikmatan dan pesona “seni untuk seni” tidak terletak pada kisah yang di bawanya atau kemiripannya dengan bentuk sesuatu atau sejenisnya di luar untuk seni, tetapi pesona seni lahir karena memang karya itu terdiri dari unsur-unsur seni yang mempesona. Memang tidak mudah kita  mencari contoh untuk mewakili jenis karya seni rupa semacam ini yang murni, walaupun banyak karya-karya seni rupa yang hadir dan meminta untuk dinikmati melulu dari kehadiran warnanya, garis-garisnya, susunan bidangnya, teksturnya, seperti karya Henry Matisse, Piet Mondrian Kandinsky dan sebagainya. Tetapi karya-karya mereka itu membawa pesan melalui garis warna, bidang dan tekstur yang dihadirkannya itu.

Memang seni untuk seni tidak banyak mendapat tempat di hati kaum awam. Bangsa Mesir kuno mengaggap kesenian tidak sebagai pengejaran dan cara menghasilkan benda-benda yang hanya mempunyai keindahan yang ideal saja. Semua hasil kesenian Mesir kuno harus dapat dipergunakan untuk tujuan yang praktis. Sebagai contoh dapat dikemukakan lukisan-lukisan, relief-relief dan patung-patung yang dibuat secara indah sekali, tetapi yang untuk selama-lamanya ditempatkan dalam kuburan-kuburan sehingga tidak mungkin orang dapat mengaguminya atau menikmatinya. Di situ benda-benda kesenian tersebut mempunyai fungsi-fungsi tertentu.

Adegan-adegan yang dilukiskan pada dinding-dinding kuburannya bukannya kejadian-kejadian di dunia ini, melainkan peristiwa di alam baka yang ingin dialami oleh orang Mesir setelah mereka meninggal. Hanya dalam menggambarkan adegan-adegan tersebut  dipergunakan unsur-unsur dari alam yang fana. Karena itu ada kalanya lukisan-lukisan atau relief-relief dalam menggambarkan adegan-adegan itu disebut “wishful painting” dan tidak mengherankan kalau kesenian Mesir kuno itu dipandang sebagai “kesenian dunia akhirat” atau “kesenian alam baka”. Kesenian Mesir kuno mengabdi pada kepercayaan. Oleh karena itu semboyan ‘1 art pour 1 art’ adalah asing bagi bangsa Mesir kuno yang memiliki sifat-sifat yang praktis itu.

Demikian juga kehidupan seni rupa di Indonesia kuno tidak mengenal semboyan seni untuk seni. Peninggalan-peninggalan karya seni rupa seperti patung-patung, relief-relief, wayang kulit, beraneka ragam motif-motif hiasan batik dan karya-karya seni rupa lainnya yang terbesar di seluruh wilayah Republik Indonesia, kehadirannya memiliki tujuan tertentu yang bersifat praktis serta mengandung nilai symbolis.

Pada tahun-tahun terakhir ini yaitu sejak awal abad ke-20, kehadiran seni adalah ekspresi. Mereka hadir sebagai wadah kehidupan jiwa yang meluap-luap yang ingin dikeluarkan berupa karya seni. Karya seni semacam ini tidak oleh obyek-obyek tertentu ataupun corak dan gaya tertentu, melainkan oleh sikap batin senimannya, ia tidak mengenal batas-batas daerah yang mempunyai tradisi-tradisi setempat. Ia ada kalanya disebut seni modern. Ia tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia sanggup menerima segala macam bentuk seni dengan hampir tiada bersyarat. Batasan-batasan yang dahulu ada seperti ikatan tradisi (“spirit of the race” atau ”spirit of the age”), demikian juga ketentuan-ketentuan isi ataupun tema disisihkan semuanya.

Satu syarat yang masih dituntut oleh seni modern yang bahkan merupakan ciri khasnya, ialah kreativitas. Dari sebuah perkataan tercantumlah beberapa sifat yang merupakan gejala-gejalanya. Oleh karena itu untuk menghindarkan istilah modern yang bermuka banyak itu tadi, ada yang menami seni modern itu dengan “seni kreatif” (Soedarso S.P.,19971, hal. 2). Contoh karya-karya seni rupa modern adalah karya-karya seniman: Paul Cezane, Paul Gauguin, Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Naum Gabo, Antoine Pevsner, Ozenfant, Marinetti, Mari Utrillo, Max Chagal, Henry Moor, Kandinsky dan sebagainya. Di Indonesia kita mengenal seniman pelukis dan pemahat modern antara lain: Affandi, Popo Iskandar, Zaini, G. Sidharta, Ktut, Cokol, Ida Bagus Nyana dan sederatan seniman muda lainnya, baik dari angkatan Persagi, Pita Maha dan kelompok atau periode lainnya.

Karya-karya mereka (sebagian) dipajang di beberapa tempat seperti: Balai Seni Rupa Pusat di Jakarta, Museum Affendi di Yogyakarta, Museum Bali di Denpasar, Museum Seteja Neka di Ubud (Bali) dan di beberapa tempat kolektor lainnya.

Mengenal Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Seni Rupa

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar Dalam Seni Rupa
Keutuhan manusia sebagai pribadi dapat dimungkinkan melalui pemahaman, penghayatan dan meresepkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu karya seni rupa sebagai salah satu bagian dari kebudayaan.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi pikiran, perasaan dan kemauan secara naluriah memerlukan pranata budaya untuk menyatakan rasa seninya, baik secara aktif dalam kegiatan kreatif, maupun secara pasif dalam kegiatan apresiatif.

Dalam kegiatan apresiatif, mengadakan pendekatan terhadap seni rupa seolah-olah kita memasuki suatu alam rasa yang kasat mata. Seni rupa sebagai karya seni yang nampak rupa seolah-olah hanya dapat dihayati dengan indra mata. Maka itu kadang-kadang seni rupa itu disamakan dengan seni visual, yakni seni yang aktivitasnya erat sangkutpautnya dengan visi indrawi (mata). Tetapi sebenarnya seni rupa itu lebih dari yang hanya bersifat lahiriah semata, yakni lebih dalam lagi dan meliputi pula visi bathiniah.
Seni rupa sebagai karya yang kasat mata, perwujudannya itu adalah merupakan wadah pembabaran idea yang bersifat bathiniah. Dalam mengadakan pendekatan terhadap seni rupa seluruh panca indra kita, khususnya penglihatan, perabaan dan perimbangan kita terlibat dengan asyiknya terhadap bentuk seni rupa itu yang terdiri dari aneka warna, garis, bidang, tekstur dan sebagainya yang bersifat lahiriah itu untuk seterusnya menguak alam kesadaran jiwa kita untuk lebih jauh menghayati isi yang terbabar dalam karya seni rupa itu serta idea yang melatar belakangi kehadirannya.

Maka itu dalam mengadakan pendekatan terhadapkarya seni rupa kita tidak hanya cukup bersimpati terhadap karya seni rupa itu, tetapi lebih dari itu yaitu secara empati (empathy). Empati berasal dari kata yunani yang berarti merasa di dalam, sedangkan simpati yang juga berasal dari kata yunani berarti merasa dengan. Jadi dalam menghayati sutau karya seni secara empati berarti kita menempatkan diri kitaka dalam karya seni itu.

“Seorang pribadi yang berempati mencoba melihat dunia dari makhluk manusia lain, melalui mata dari orang lain. Empati memerlukan keterlibatan, imajinasi, pengertian, identifikasi dan interaksi. Dengan faktor-faktor tersebut maka kualitas empati lebih meningkat” (dep.P & K, Hal. 66).

BACA JUGA:
Pengertian Dan Tujuan Seni Rupa
Macam-Macam Gaya, Corak Dan Isme Seni Rupa


Dengan kesediaan kita mempelajari suatu karya seni secara empati, yaitu mencoba memahami apa yang sebenarnya terbabar dalam karya seni itu, baik terhadap karya seni yang berasal dari jaman lampau maupun dari masa kini dari daerah yang sama atu berjauhan, berarti kita telah terbuka untuk memahaminya.

Memang, pada dasarnya manusia bersifat suka memahami manusia lainnya, termasuk bersifat suka meneriam karya seni bentuk-bentuk asing, pemahaman terhadap karya seni bentuk-bentuk asing seprti karya seni rupa primitif atau karaya seni rupa kuno, bahkan juga terhadapkarya seni rupa modern tidaklah mudah, tidak dapat dilakukan secra sepintas atas dasar pandang sekejap. Karya seni rupa itu agar dapat dipahami benar-benar harus dikaji berdasrkan pengamatan yang seksama (Bernard S. Myer saduran oleh Dra. Nieke Hendrawati cs, 1976, hal. 3).

Kesediaan kita mempelajari bermacam-macam karya seni rupa akan memberi manfaat tambahan kepada kita. Kita dapat memahami kehidupan berbagi bangsa dan kebudayaan, karna karya-karya seni rupa itu merupakan cermin dari aliran-aliran pikirin masyarakat yang hidup pada jaman itu. Jadi melalui karya seni rupa itu kita dapat mengetahui konsep-konsep pikiran masyarakat dari masa karya-karya seni itu berasal bagaimana mereka berpikir dan apa yang  mereka rasakan. Kalau kita mampu menangani perbedaan yang ada dari latar belakang ketidaksamaan agama, sistem sosial atau budaya dan sebagainya, budi dan jalan pikiran kita akan berkembang  penghayatan kita terhadap manusia lain selangkah lebih maju. (ibid, hal 3)

Oleh karena itu masing-masing jaman memiliki aliran pikiran yang berbeda, maka lahir pula karya karya seni rupa yang pada tiap-tiap jaman berbeda. Masing masing jaman melahirkan karya-karya seni rupa dengan ciri-cirinya masing-masing. Maka itu dalam uraian ini membicarakan seni rupa dalam kaitannya dengan konsep ilmu Budaya Dasar, sebagai awal pendekatan akan diketengahkan berbagai kenikmatan dan pesona (kekhusyukan) yang dihidangkan seni rupa itu, yaitu: makna dan tujuan seni rupa dan beberapa gaya corak atau isme seni rupa.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com